Sabtu, 31 Maret 2012

BUDIDAYA CABE RAWIT


Cabe Rawit
Pedas Rasanya,
Pedas Harga Jualnya


Kecil Bentuknya, Pedas Rasanya.Sayang, cabe jenis ini masih luput dari perhatian karena kurangnya informasi tentang peluang pengembangan agribisnisnya. Padahal bila mau dibandingkan, teknis budidayanya tidak lebih rumit dari cabe besar dan tentunya harganya pun lebih oke. Keunggulannya : bisa dipanen lebih lama. Berani coba?


Sebagai salah satu sentra produksi sayuran di kawasan Bukit Tinggi, Kecamatan Banu Hampu Sungai Puar, Kab. Agam Sumatera Barat, penanaman cabe rawit di sana tergolong jarang dibudidayakan. Jangankan intensif, pembudidayaan secara tradisional oleh petani setempat pun termasuk langka. Kalaupun ada, biasanya petani menanamnya dalam skala kecil dan umumnya mereka menanam cabe rawit di sekitar pekarangan rumahnya sehingga lebih digolongkan sebagai tanaman warung hidup.

Kurang intensifnya pembudidayaan cabe rawit di kalangan petani sayuran di daerah tersebut tidak terlepas dari kurangnya informasi yang lengkap mengenai komoditas ini. Meskipun tidak se-bombastis cabe besar maupun cabe kriting, namun melihat dari kecendrungan permintaan yang meningkat dan dibarengi dengan kenyataan bahwa harganya bisa 2 kali lipat harga cabe biasa, peluang pembudidayaan intensif cabe rawit cukup menjanjikan. Informasi mengenai harga dan peluang inilah yang belum banyak diketahui oleh petani sayuran umumnya. Mungkin para petani Banuhampu belum mengetahui bahwa permintaan pasar akan cabe rawit di bukit tinggi cukup besar. Bahkan menurut informasi yang didapatkan, di cabe rawit dapat ditampung berapapun jumlahnya oleh pedagang pengumpul baik itu di Pasar Padang Luar, pedagang baso, maupun di Padang Panjang Kabupaten Tanah Datar. Perlu diketahui pula bahwa cabe rawit ternyata tidak hanya dikonsumsi masyrakat Sumatra Barat saja , bahkan ada yang sampai dijual ke Propinsi Riau.

Dengan pengelolaan teknis budidaya yang benar dan tepat, cabe rawit tidak kalah berpotensi dengan jenis cabe besar, maupun keriting.
Dan juga ada yang dierkspor ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Bila dibandingkan dengan cabe besar atau cabe kriting, pembudidayaan cabe rawit malah relatif lebih mudah. Selain itu keuntungan lainnya adalah masa panen lebih panjang sehingga buahnya dapat dipanen hingga umur minimal 1 tahun bahkan ada varietas yang lebih lama lagi. Terdorong oleh kenyataan tersebut maka penulis merasa terketuk hati dan ingin membagi pengalaman dalam membudidayakan cabe rawit yang pengelolaannya seperti hobby namun cukup menjanjikan ini.

Cabe rawit dapat ditanam di lahan mana saja seperti lahan sawah, tegalan, dan tempat yang terlindungi oleh pepohonan sekalipun asalkan pesyaratan tumbuhnya terpenuhi. Penulis memang tidak membudidayakan secara besar-besaran seperti halnya petani sayuran lain yang membudidayakan cabe biasa, melainkan “hanya” menggunakan lahan produktif yang ada yaitu sekitar 1000 populasi (batang) saja. Populasi ini lebih sedikit dibandingkan beberapa waktu lalu yang hingga mencapai 4000 populasi. Meskipun hanya berkisar 1000 batang, penggunaan mulsa plastik hitam perak (HP) merupakan sesuatu yang penting. Sebagai perbandingan, untuk populasi 4000 batang, kami menggunakan kurang lebih 40 Kg mulsa plastik ukuran standar.

Pilih Benih
Budidaya Cabe Rawit diawali dengan pemilihan benih. Pemilihan benih merupakan langkah awal yang sangat penting. Karena bila kita memilihi benih yang tidak baik, tentu saja hasilnya pun tidak baik pula. Bibit atau benih cabe harus sudah tersedia terlebih dahulu sebelum kita mulai mengerjakan lahan. Benih cabe rawit dapat diperoleh dari toko pertanian setempat baik berupa varietas lokal, OP maupun hibrida.
Pemilihan benih lokal, OP maupun hibrida tergantung pada petani itu sendiri. Namun akan lebih bagus dan lebih prima hasilnya bila kita menggunakan benih hibrida atau OP yang unggul yang ada dipasaran. Mengapa? Pengalaman telah menunjukkan bahwa hasil produksi benih hibrida atau veritas OP yang unggul jauh lebih baik dibandingkan varietas lokal. Tidak hanya dari hasil saja, keunggulan cabe rawit unggul dan hibrida dapat dilihat dari vigor, kesaragaman tanaman serta ketahanannya terhadap penyakit yang menunjukkan hasil yang lebih baik. Untuk jenis OP, kita dapat memilih benih cabe rawit seperti varietas Cakra Hijau atau juga Cakra Putih. Khusus untuk Cakra Hijau, dari penga-laman yang pernah kami dapat menun-jukkan bahwa cabe rawit ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun tinggi, lebih tahan dari gangguan hama dan penyakit, serta dapat dipanen pada umur 80 – 90 hari setelah tanam. Pertimbangan pemilihan varietas Cakra Hijau juga dipengaruhi oleh cukup banyaknya peminat cabe rawit ini baik dari propinsi Riau maupun negara tetangga karena pedasnya yang luar biasa. Saat ini harga jual cabe rawit tersebut (Bulan Januari 2003-red) mencapai Rp. 15.000,-/Kg. Bahkan bisa lebih dari itu.
CAKRA HIJAU
Umur Panen : 80 - 85 HST
Keb.Benih : + 150 gr/ha
Potensi/ha : 12 ton/ha
Berat/buah : + 2 gram
Ukuran Buah : 3 x 0,75 cm
Bentuk Buah : kecil/rawit
Ketahanan : cukup tahan
Jarak Tanam : 60 x 60
Keunggulan : Produktif, rasa buahnya sangat pedas, cabe rawit hijau namun akan berwarna merah setelah masak, adaptasi lingkungan baik.
Cabe rawit cakra hijau. Produksi tinggi dan sangat pedas.
Persemaian
Benih cabe yang kita pilih disemaikan seperti halnya cabe besar.
Kami melakukan penyemaian dengan menaburkan benih-benih tersebut di atas tanah yang telah dibuat bedengan dengan rapi, dan berderet. Untuk pembibitan digunakan bumbungan yang dibuat dari kertas pembungkus nasi. Karena masa tumbuh cabe rawit lebih lama dari cabe merah biasa, maka sebelum benih ditabur benih sebaiknya direndam terlebih dahulu kira-kira satu hingga dua hari untuk kemudian diperam (dikecambahkan) dengan membungkusnya dengan kain yanag sudah dibasahi dengan air.

Setelah tumbuh radikula (calon akar), barulah benih ditaburkan ke lahan yang telah disiapkan sebelumnya. Agar bibit cabe tidak berhimpitan yang diakibatkan daunnya yang melebar, maka saat penebaran disarankan tidak berdekatan antara benih yang satu dengan yang lain. Untuk itulah penggunaan polybag baik dari plastik, daun pisang maupun yang lainnya sangat dianjurkan. Setelah benih berumur kurang lebih satu hingga satu setengah bulan, yang dicirikan dengan munculnya 4 daun sempurna tanaman cabe, bibit kemudian dipindahtanamkan ke lahan penanaman.

Penanaman
Jarak tanam antara tanaman sebaiknya digunakan 60 – 70 cm dengan jarak antar bedengan 75 cm. Penggunaan jarak yang terlalu rapat akan menyebabkan pertumbuhan tanaman cabe satu sama lain akan berhimpitan, apalagi tanaman cabe rawit memiliki struktur kanopi yang lebih lebar.
Tanaman cabe rawit tidak perlu dilakukan perempelan (pembuangan tunas-tunas). Hal ini karena tunas tersebut akan menjadi calon ranting maupun cabang, Semakin banyak cabang atau rantingnya maka semakin baik, karena batang/cabang merupakan tempat tumbuhnya bunga dan buah sehingga semakin banyak pula buah cabai yang akan kita peroleh.
Pemupukan
Peranan pupuk kandang sangat dominan dalam budidaya cabe rawit ini. Pupuk kandang dapat menggunakan kotoran ayam ras.buras, itik, sapi, atau kerbau. Pupuk kandang yang kami gunakan kotoran ayam yang sudah kering adalah sekitar 500 – 700 gram /tanaman. Jadi, untuk populasi 1000 tanaman, menghabiskan pupuk kandang kurang lebih 500 – 700 Kg. Selain menggunakan pupuk organik, pemberian pupuk buatan sangat perlu untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Adapun pupuk buatan yang digunakan pada budidaya cabe rawit adalah urea dengan pupuk NPK Grand-S 15 perbandingan 2 : 1. Dosis pupuk yang digunakan kurang lebih 75 – 80 gram per tanaman. Pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar yang ditaburkan di bagian kiri dan kanan bedengan. Sedangkan pupuk buatan ditaburkan di bagian tengah bedengan. Setelah penebaran pupuk selesai, bedengan kemudian ditimbun kembali dengan tanah yang diambil dari bagian samping bedengan hingga tertutup dengan ketebalan 2 – 3 cm. Sebagai pengganti Grand - S 15 , dapat juga digunakan pupuk tanigro ditambah Grand-K.
Bedengan yang telah ditaburi pupuk kemudain ditutup dengan mulsa HP, dibiarkan kira-kira dua hingga tiga hari untuk kemudian bibit cabai ditempatkan pada setiap lubang tanam yang sudah dibuat sebelumnya. Pertumbuhan cabe rawit akan tampak baik penampilan maupun vigornya pada umur 10 – 15 hst terlebih bila menggunakan bumbungan saat pembibitan.

Hama dan penyakit yang seringkali menyerang cabe rawit adalah ulat daun, kutu daun serta penyakit bercak daun. Pengendalian HPT pada tanaman cabe rawit relatif lebih ringan dibandingkan cabe besar. Untuk mengendalikan serangan ulat, dapat digunakan insektisida biologis seperti Turex WP, sedangkan untuk mengendalikan kutu daun dan thrips dapat digunakan insektisida Winder 25WP atau Winder 100EC. Sedangkan pengedalian penyakit seperti bercak daun dapat dikendalikan dengan Kocide 54WDG atau Victory 80WP. Pemakaian pestisida tersebut dapat dicampur sesuai dosis anjuran yang ada.

Setelah tanaman berumur kira-kira 80 – 90 hari, buah cabe sudah dapat dipetik. Karena varietas cakra hijau ini buahnya kecil dengan warna hijau yang mirip daun, maka pemanenan harus ekstra hati-hati sehingga jangan sampai ada yang luput dari pemetikan (pemanenan). Berdasarkan pengalaman, cabe rawit dapat dipanen minimal 15 kali bahkan bisa sampai 18 kali. Tergantung situasi dan kondisi tanah, vareitas serta lingkungan yang menunjang. Penggunaan ulang pupuk yang sama dengan dosis setengahnya dari dosis awal ditenggarai dapat memperpanjang masa panen cabe rawit 2 – 3 kali lagi.

Cukup Menguntungkan
Berdasarkan perhitungan sederhana yang dilakukan sebagai analisis usaha tani, data berikut dapat memberikan seidkit gambaran bagaimana keuntungan yang bisa diraih dari budidaya cabe rawit ini. Misalnya biaya setiap batang cabe rawit dihargai Rp. 400,- dengan hasil panen rata-rata 6 ons per tanaman. Dengan jumlah tanaman kira-kira 2000 batang, maka kita akan mendapatkan pemasukan : 0,6 Kg (600 gram) x 2000 tanaman x Rp. 15.000,- (harga cabe rawit /Kg) = Rp. 18.000.000,-. Padahal biaya produksinya hanya Rp. 400 x 2000 tanaman = Rp. 800.000,-. Berarti kita mendapat keuntungan sebesar Rp 18.000.000 – Rp. 800.000,- = Rp. 17.200.000,-. Melihat hasil seperti ini maka tidaklah salah bila dikatakan cabe rawit itu kecil buahnya, pedas rasanya namun pedas juga harga jualnya. Selamat Mencoba.

(Wiwin -  penyuluh pertanian wilayah kerja Kel. Kuang Kec. Taliwang Kab. Sumbawa Barat)



By wiwin wulandari with 1 comment

1 komentar:

Poskan Komentar